Jesus: Selibat atau Menikah?

KRISTOLOGI

Admin

2/24/20261 min read

Jika Yesus adalah manusia seutuhnya, mungkinkah Ia juga merasakan cinta dan menikah? Bagi sebagian orang, gagasan bahwa Yesus berkeluarga dianggap menodai kesucian-Nya. Namun, bagi yang lain, hal tersebut justru memperkuat sisi kemanusiaan-Nya yang nyata. Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, apakah terdapat bukti yang mendukung kemungkinan ini?

Kisah pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena terletak sangat dekat dengan permukaan narasi injil. Sangat mudah untuk merasakan adanya elemen erotis dalam cerita tentang wanita dengan buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni, yang menuangkannya ke atas Yesus, sehingga "bau minyak semerbak memenuhi rumah itu". Mereka yang memiliki pengetahuan alkitabiah akan mengenali Kidung Agung: "sementara raja duduk di atas dipannya, minyak narwastuku menyebarkan wanginya". Kidung Agung adalah liturgi pernikahan raja-raja Daud, sebuah pengiring verbal yang indah untuk upacara-upacara tersebut. Dalam Injil Yohanes, dijelaskan secara gamblang bahwa wanita dengan minyak wangi tersebut adalah Maria dari Betania, yaitu Maria Magdalena.

Injil Filipus, yang memiliki tanda-tanda ditulis pada masa awal, memberikan informasi lebih lanjut. "Ada tiga orang yang selalu berjalan bersama Sang Tuan/Penguasa: Maria ibunya, saudara perempuannya, dan Magdalena, yang disebut sebagai pendampingnya. Saudara perempuannya, ibunya, dan pendampingnya masing-masing bernama Maria". Dalam bagian selanjutnya disebutkan:Dan pendamping Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Dia mencintainya lebih dari semua murid dan sering menciumnya pada mulutnya. Murid-murid lainnya merasa tersinggung dan berkata kepadanya: "Mengapa Engkau lebih mencintainya daripada kami semua?" Sang Juru Selamat menjawab dan berkata kepada mereka, "Mengapa Aku tidak mencintai kalian seperti dia? Ketika seorang buta dan seorang yang melihat berada bersama-sama dalam kegelapan, mereka tidak berbeda satu sama lain. Ketika terang datang, maka dia yang melihat akan melihat terang, dan dia yang buta akan tetap dalam kegelapan".

Source: Barbara Thiering, Jesus the man, Ch. 17, P. 117-120