Kulup Suci Kristus
Kulup Suci Kristus: relik kontroversial yang pernah disembah selama seribu tahun. Dari Injil apokrifa, persaingan 31 gereja, hingga pencurian misterius 1983
SEJARAH
admin
4/1/202611 min read
1. Asal‑usul dalam Injil Apokrifa: Pembenaran Awal
Kisah tentang keberlangsungan kulup Yesus pertama kali muncul dalam naskah‑naskah apokrifa abad ke‑6. uCatholic dan Historic Mysteries mengutip Arabic Infancy Gospel dan Syriac Infancy Gospel yang menceritakan:
“Setelah Yesus disunat di sebuah gua pada hari kedelapan, seorang wanita Ibrani tua mengambil kulup tersebut dan menyimpannya dalam kotak alabaster berisi minyak spikenard.” (Syriac Infancy Gospel 5)
Naskah ini menambahkan bahwa wanita tua itu bernama Maryam (sama dengan nama ibu Yesus) dan ia berpesan kepada putranya, seorang penjual rempah, untuk tidak pernah menjual kotak itu meskipun ditawar dengan harga tinggi. Meskipun bukan bagian dari kanon Alkitab, teks‑teks ini menjadi pembenaran utama bagi kolektor relikui abad pertengahan bahwa kulup Yesus—satu‑satunya bagian tubuh‑Nya yang terpisah sebelum kenaikan ke surga—masih ada di bumi.
Medievalists.net menambahkan bahwa The First Gospel of Baby Jesus (ditulis sebelum abad ke‑6) juga menggambarkan bagaimana relikui ini diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi umat Kristen abad pertengahan, kehadiran fisik relikui semacam ini memberikan “kekuatan ilahi yang bekerja melalui benda‑benda yang dikuduskan oleh penggunaan dan kontak dengan tangan orang‑orang kudus” (kutipan dari seorang biarawan abad ke‑12 dalam Medievalists.net). Dengan demikian, meskipun bersumber dari kitab yang tidak diakui kanon, narasi apokrifa ini menjadi fondasi yang cukup kuat bagi para pengumpul relikui untuk meyakinkan umat bahwa potongan fisik tersebut benar‑benar ada dan layak dipuja.
2. Jejak Awal: Dari Byzantium ke Roma (800–1527)
Semua sumber sepakat bahwa catatan sejarah yang terverifikasi tentang Kulup Suci dimulai sekitar tahun 800 M. uCatholic memberikan kronologi paling rinci:
- Ratu Irene dari Byzantium (Permaisuri Bizantium) memberikan relikui ini kepada Raja Charlemagne (Karl Agung) sebagai hadiah pernikahan.
- Charlemagne kemudian mempersembahkannya kepada Paus Leo III saat penobatannya sebagai Kaisar Romawi Suci pada Malam Natal tahun 800 M.
- Relikui disimpan di Sancta Sanctorum (Kapel Paus di Basilika Lateran, Roma) dalam sebuah salib emas berhiaskan permata yang ditempatkan di bawah altar. Sebuah dokumen bernama Descriptio lateranensis Ecclesia (sekitar 1100) menyebutkan bahwa di dalam salib itu terdapat kulup dan tali pusar Yesus.
- Pada abad ke‑14, Santa Birgitta dari Swedia (1303–1373) mengaku mendapat penglihatan dari Perawan Maria yang menyatakan bahwa relikui di Vatikan itu asli. Penglihatan ini semakin mengukuhkan status relikui tersebut di mata umat.
Historic Mysteries menambahkan bahwa pada tahun 1421, relikui ini sempat dipinjamkan ke Inggris: dikirim ke Catherine of Valois untuk mendatangkan keberuntungan dan kesuburan dalam pernikahannya dengan Raja Henry V. Ini menunjukkan bahwa relikui tersebut tidak hanya dipuja, tetapi juga dianggap memiliki kekuatan magis‑protektif yang dapat mempengaruhi peristiwa‑peristiwa kerajaan. Selama lebih dari tujuh abad, Kulup Suci menjadi salah satu harta paling berharga di Vatikan, setara dengan relikui Salib Sejati dan mahkota duri.
3. Fenomena “Duplikasi Ajaib”: Puluhan Gereja Mengklaim
Pada abad pertengahan, popularitas Kulup Suci meledak. Semakin banyak gereja dan biara yang mengklaim memilikinya, dan klaim‑klaim ini sering kali disertai dengan narasi yang mirip: Maria menyimpan kulup bersama tali pusar, kemudian memberikannya kepada Maria Magdalena; berabad‑abad kemudian, relikui itu sampai ke tangan Charlemagne melalui malaikat, lalu disebarkan ke berbagai gereja.
Data mengenai jumlah klaim bervariasi menurut sumber:
- Medievalists.net (mengutip penelitian Robert Palazzo dalam The Veneration of the Sacred Foreskin(s) of Baby Jesus: A Documentary Analysis, 2005) mencatat setidaknya 31 gereja di seluruh Eropa yang mengklaim memiliki Kulup Suci pada suatu masa. Lokasi‑lokasi tersebut mencakup Paris, Antwerp (Belgia), Bologna (Italia), Santiago de Compostela (Spanyol), Toulouse (Prancis), serta kota‑kota lainnya.
- CBC (dalam wawancara dengan David Farley) menyebut jumlah antara 12–18 gereja, terutama di Prancis. Perbedaan angka ini mencerminkan tingkat dokumentasi yang berbeda, namun intinya sama: klaim tersebar luas.
Fenomena ini memunculkan sindiran bahwa relikui tersebut memiliki “kemampuan ajaib untuk menggandakan diri” (miraculous power of duplication), sebagaimana dijelaskan dengan nada sinis oleh Historic Mysteries. Sindiran ini merujuk pada kenyataan bahwa meskipun banyak gereja mengklaim memiliki potongan fisik yang sama, tidak ada satu pun yang dapat membuktikan keasliannya. Di kalangan akademisi modern, fenomena ini dipandang sebagai contoh nyata bagaimana ekonomi relikui—yang menguntungkan gereja setempat melalui ziarah dan sumbangan—mendorong proliferasi klaim yang saling bersaing.
4. Dua Klaim Terkuat: Charroux vs. Calcata
Di antara puluhan klaim, dua tempat menonjol karena mendapat pengakuan kepausan dan menjadi pusat ziarah yang ramai. Keduanya saling bersaing selama berabad‑abad.
a. Relikui Charroux (Prancis)
Biara Saint‑Sauveur di Charroux, Prancis, mengklaim memiliki kulup yang diberikan langsung oleh Charlemagne. Klaim ini diperkuat oleh laporan mukjizat:
- Dalam sebuah konsili tahun 1082, relikui yang disimpan di altar dilaporkan mengeluarkan tetesan darah secara spontan. Peristiwa ini dianggap sebagai bukti keaslian dan kekuatan supernaturalnya (Historic Mysteries).
- Pada masa kepausan Klemens VII (1523–1534), biara Charroux berhasil mendapatkan pengakuan resmi: Paus menyatakan bahwa relikui Charroux adalah yang asli. Pengakuan ini menjadikan Charroux sebagai salah satu tujuan ziarah utama di Prancis.
b. Relikui Calcata (Italia)
Kisah relikui Calcata dimulai dari bencana sekaligus berkah: penjarahan Roma tahun 1527 oleh pasukan Karl V (Landsknecht Jerman). Para tentara menjarah Sancta Sanctorum dan mengambil banyak relikui, termasuk Kulup Suci.
- Seorang tentara Jerman yang membawa relikui tersebut kemudian ditawan di desa Calcata (sekitar 30 km utara Roma) dan menyembunyikan relikui di dalam sel penjaranya untuk menghindari penyitaan.
- Setelah kematiannya, relikui itu “ditemukan kembali” secara ajaib pada tahun 1557 oleh penduduk setempat.
- Paus Paulus IV (atau Paus saat itu, menurut beberapa sumber) menyatakan bahwa takdir telah membawanya ke Calcata, sehingga relikui harus tetap berada di desa tersebut.
Sejak itu, setiap tanggal 1 Januari—Hari Raya Sunat Suci (Feast of the Circumcision of Christ)—pastor setempat memprosesi relikui keliling desa dalam sebuah tabernakel kaca. Prosesi ini menjadi acara tahunan yang menarik ribuan peziarah. Tradisi ini berlangsung hingga abad ke‑20, bahkan setelah Vatikan mulai melarang diskusi tentang relikui tersebut.
Medievalists.net mencatat bahwa meskipun dekrit Paus Leo XIII tahun 1900 mengancam ekskomunikasi bagi siapa pun yang membicarakan Kulup Suci, Calcata tetap diperbolehkan melanjutkan prosesi tahunannya. Ini menunjukkan bahwa larangan tersebut tidak serta‑merta menghapus praktik lokal yang sudah mengakar. Hingga tahun 1983, desa Calcata menjadi satu‑satunya tempat di dunia yang masih secara terbuka memamerkan Kulup Suci setiap tahun.


Sepanjang sejarah Gereja, relik (benda-benda keramat) memainkan peran sentral sebagai jembatan antara umat dan yang ilahi. Tidak ada relikui yang lebih unik, kontroversial, dan sekaligus absurd daripada Kulup Suci (Holy Foreskin / Sanctum Praeputium) — potongan kulit yang diyakini sebagai sisa sunat Yesus Kristus. Selama hampir seribu tahun, relik ini bukan hanya diakui, tetapi disembah secara luas di Eropa, diperebutkan oleh puluhan gereja, dan melahirkan praktik mistik yang paling intim. Namun pada tahun 1900, Paus Leo XIII mengancam ekskomunikasi bagi siapa pun yang membicarakannya. Artikel ini mengupas tuntas sejarah panjang relik tersebut berdasarkan lima sumber utama.


5. Kritik Teologis dari Dalam Gereja
Sejak abad ke-7, para teolog telah meragukan keaslian Kulup Suci. Anastasius Sinaita berargumen bahwa Tubuh Kristus setelah kebangkitan harus utuh, sehingga mustahil kulup-Nya masih tertinggal di bumi. John Hus (1369–1415) bahkan lebih keras: “Mengajarkan bahwa kulup Kristus masih ada sama bodohnya dengan mengajarkan bahwa kepala Kristus masih ada.” Paus Innocentius III (1198–1216) pun menolak memverifikasi keaslian relikui yang disimpan di Lateran, hanya berkata, “Lebih baik pertanyaan ini diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.” Meskipun kritik ini datang dari tokoh-tokoh terkemuka, pemujaan tetap berlangsung karena didukung popularitas umat dan kepentingan ekonomi gereja-gereja yang memilikinya.
6. Kisah Mistik Para Kudus yang Unik
Salah satu aspek paling menarik dari pemujaan Kulup Suci adalah praktik mistik yang menyertainya. Tidak hanya berupa prosesi publik dan ziarah, relikui ini juga menjadi fokus pengalaman spiritual yang sangat personal dan intim, bahkan ekstrem. Medievalists.net mendokumentasikan dua kisah yang paling terkenal.
Santa Katarina dari Siena (1347–1380), seorang mistikus Dominikan dan Pujangga Gereja, melaporkan pengalaman mistiknya tentang relikui ini. Dalam penglihatannya, ia menerima cincin perkawinan dari Kristus sebagai tanda ikatan spiritualnya. Namun, yang membuat unik adalah deskripsi tentang cincin tersebut: menurut pengakuan Katarina, cincin itu bukan terbuat dari emas atau perak, melainkan terbuat dari kulup Kristus sendiri—sebuah cincin daging yang dikenakannya secara spiritual. Kisah ini menunjukkan betapa literal dan intimnya penghayatan mistis terhadap relikui pada masa itu.
Kisah yang lebih ekstrem lagi datang dari Agnes Blannbekin (1244–1315), seorang mistikus Austria. Dalam pengakuannya kepada bapa pengakuan, ia menceritakan pengalaman spiritual yang berulang-ulang terkait Kulup Suci. Menurut catatan Medievalists.net, Agnes mengaku merasakan sepotong kecil kulit seperti kulit telur di lidahnya, lalu menelannya, dan kejadian itu berulang sekitar seratus kali. Pengalaman ini, yang oleh para teolog saat itu dianggap sebagai anugerah mistik, menggambarkan bagaimana relikui ini tidak hanya dipuja dari jauh tetapi benar-benar dihayati secara fisik dan sensorik oleh para mistikus abad pertengahan.
Bagi para akademisi modern, kisah-kisah ini bukan sekadar anekdot aneh, tetapi cerminan dari cara berpikir dan beriman pada abad pertengahan. Tubuh Kristus, dalam teologi saat itu, dipandang sebagai realitas yang dapat diakses secara fisik melalui relikui dan sakramen. Pengalaman mistik seperti yang dialami Katarina dan Agnes menunjukkan bahwa batas antara yang fisik dan yang spiritual sangat cair, dan relikui menjadi jembatan yang memungkinkan interaksi langsung dengan yang
7. Pencurian Relikui Calcata (1983)
Di antara semua klaim Kulup Suci yang pernah ada, relikui Calcata adalah satu-satunya yang masih diprosesikan secara publik hingga abad ke-20. Setiap tahun, pada tanggal 1 Januari, pastor paroki setempat akan mengarak relikui keliling desa, disaksikan oleh ribuan peziarah. Tradisi ini telah berlangsung selama lebih dari empat abad, sejak relikui itu “ditemukan kembali” pada tahun 1557.
Namun, pada Januari 1983, semua berubah. Beberapa minggu sebelum prosesi tahunan yang dijadwalkan, pastor paroki Don Dario Magnoni membuat pengumuman mengejutkan: relikui tersebut telah dicuri. Lebih mengejutkan lagi, relikui itu disimpannya bukan di gereja atau tempat aman, melainkan di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya. Menurut laporan CBC dan Historic Mysteries, pastor tersebut baru menyadari kehilangan ketika ia memeriksa kotak itu untuk persiapan prosesi.
Polisi melakukan penyelidikan, tetapi pelaku pencurian tidak pernah ditemukan. Hingga hari ini, misteri penculian relikui Calcata tetap tidak terpecahkan. Berbagai teori pun beredar di kalangan penduduk desa dan para peneliti:
- Dicuri oleh oknum Vatikan: Banyak yang meyakini bahwa Vatikan, yang sejak 1900 telah melarang diskusi tentang Kulup Suci, akhirnya mengambil tindakan tegas dengan menghilangkan relikui yang paling terkenal tersebut untuk mengakhiri pemujaan yang dianggap memalukan.
- Dijual oleh pastor sendiri: Teori lain menyebutkan bahwa Don Dario Magnoni mungkin menjual relikui itu ke kolektor gelap dengan harga tinggi. Pendukung teori ini menunjuk pada keanehan menyimpan relikui berharga di kotak sepatu sebagai indikasi adanya niat untuk memudahkan transaksi.
- Dicuri oleh kelompok setanis atau neo-Nazi: Beberapa penduduk setempat percaya bahwa relikui itu dicuri oleh kelompok luar yang ingin menodai benda suci tersebut.
- Dikembalikan ke Vatikan secara diam-diam: Ada juga yang berpendapat bahwa relikui tersebut secara rahasia dikembalikan ke Vatikan melalui perintah uskup setempat, dan pastor hanya menyatakan dicuri untuk menghindari kehebohan.
Seorang penduduk Calcata bernama Capellone mengaku mendapat pengakuan dari mantan uskup setempat bahwa relikui akan hilang setelah uskup itu meninggal. Uskup tersebut wafat pada tahun 1975, dan delapan tahun kemudian relikui lenyap. Meskipun teori ini tidak dapat diverifikasi, ia menambah lapisan misteri yang menyelimuti hilangnya relikui tersebut.
Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti di mana Kulup Suci Calcata berada. Yang pasti, kehilangan ini menandai akhir dari tradisi panjang pemujaan publik terhadap relikui yang telah berlangsung hampir seribu tahun.
8. Sikap Vatikan: Larangan dan Ekskomunikasi
Sebelum pencurian 1983, Vatikan telah lama berupaya menekan pemujaan terhadap Kulup Suci. Upaya ini mencapai puncaknya pada tahun 1900, ketika Paus Leo XIII mengeluarkan dekrit yang mengancam ekskomunikasi bagi siapa pun yang menulis, berbicara, atau mengomentari relikui tersebut. Alasan resmi yang diberikan adalah untuk menghindari “rasa ingin tahu yang tidak hormat” (irreverent curiosity), seperti dikutip oleh uCatholic dan CBC.
Namun, larangan ini tidak serta-merta menghapus praktik yang sudah berlangsung berabad-abad. Calcata, seperti disebutkan sebelumnya, masih diizinkan melanjutkan prosesi tahunannya. Larangan lebih bersifat simbolis dan ditujukan untuk menghentikan diskusi teologis dan publikasi yang semakin memperkeruh suasana.
Pada tahun 1954, sanksi diperketat. Vatikan menetapkan bahwa bentuk ekskomunikasi yang dikenakan adalah yang paling berat: “infamous and to be avoided” (terkutuk dan harus dijauhi). Ini berarti siapa pun yang melanggar dekrit tidak hanya dikucilkan dari Gereja, tetapi juga harus dihindari oleh umat lainnya. Historic Mysteries mencatat bahwa sanksi ini membuat topik Kulup Suci menjadi sangat tabu di kalangan umat Katolik.
Perubahan besar berikutnya terjadi setelah Konsili Vatikan II (1962–1965). Dalam reformasi liturgi pasca-konsili, Hari Raya Sunat Suci yang selama ini diperingati setiap tanggal 1 Januari dihapus dari kalender liturgis universal. Sebagai gantinya, tanggal 1 Januari ditetapkan sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Dengan dihapusnya dasar liturgis ini, prosesi tahunan Kulup Suci kehilangan legitimasi formalnya. Meskipun Calcata sempat melanjutkan tradisi untuk beberapa waktu, langkah ini secara efektif memutus akar liturgis pemujaan relikui tersebut.
9. Perspektif Akademisi: Mengapa Manusia Memuja Relikui?
Para akademisi yang mempelajari fenomena Kulup Suci tidak terlalu fokus pada apakah relikui itu asli atau tidak. Sebaliknya, mereka tertarik pada makna di balik pemujaan tersebut: mengapa orang selama berabad-abad percaya dan memuja benda ini? Apa yang didapatkan dari keyakinan tersebut?
James White, mahasiswa PhD di Universitas Alberta yang menulis disertasi berjudul Ring of Flesh: The Late Medieval Devotion to the Holy Foreskin, mengatakan dalam wawancara dengan CBC: “Saya sebenarnya tidak peduli apakah kulup ini pernah ada. Yang penting, mengapa orang percaya padanya? Apa tujuannya bagi mereka?” Baginya, fenomena ini adalah cerminan dari kebutuhan spiritual manusia yang bersifat lintas zaman.
Miri Rubin, profesor sejarah abad pertengahan di Queen Mary University of London, memberikan perspektif yang lebih luas. Menurut Rubin, pemujaan Kulup Suci masuk akal dalam konteks zamannya. Umat Kristen abad pertengahan berusaha memahami Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya (inkarnasi), termasuk kerentanan fisik Kristus sebagai bayi yang disunat dan mengeluarkan darah. “Ini tentang hasrat, kerinduan, kelangkaan,” kata Rubin. Ia membandingkan fenomena ini dengan pemujaan modern: ziarah ke Graceland, rumah Elvis Presley, yang menarik ribuan penggemar setiap tahun; koleksi barang-barang milik selebritas yang terjual dengan harga fantastis; atau komik Superman pertama yang terjual jutaan dolar. Semuanya, menurut Rubin, adalah manifestasi modern dari hasrat yang sama: keinginan untuk menyentuh sesuatu yang langka dan penuh makna.
David Farley, penulis An Irreverent Curiosity: In Search of the Church’s Strangest Relic and Italy’s Oddest Town, yang diwawancarai oleh CBC, menambahkan bahwa budaya relikui abad pertengahan sebenarnya tidak berbeda dengan obsesi modern terhadap barang-barang langka. Baik relikui abad pertengahan maupun memorabilia selebritas modern, keduanya memenuhi kebutuhan manusia akan koneksi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri—baik itu yang ilahi maupun yang ikonik.
## Catatan Akhir: Poin-Poin Penting
1. Kulup Suci diyakini sebagai satu-satunya bagian tubuh Yesus yang tertinggal di bumi setelah kenaikan-Nya ke surga. Keyakinan ini didasarkan pada Injil apokrifa abad ke-6 (Arabic Infancy Gospel, Syriac Infancy Gospel) yang menjadi pembenaran bagi kolektor relikui abad pertengahan.
2. Relikui ini mulai tercatat dalam sejarah sejak abad ke-9, ketika Charlemagne memberikannya kepada Paus Leo III. Selama berabad-abad, Kulup Suci disimpan di kapel kepausan Sancta Sanctorum di Roma dan dianggap sebagai relikui paling berharga setelah relikui Salib Sejati.
3. Pada puncak popularitasnya (abad ke-11 hingga ke-16), puluhan gereja di Eropa mengklaim memilikinya. Menurut Medievalists.net, setidaknya 31 gereja; menurut CBC, antara 12–18 gereja. Klaim yang saling bersaing ini memunculkan sindiran bahwa relikui tersebut memiliki “kemampuan ajaib menggandakan diri.”
4. Dua klaim terkuat mendapat pengakuan kepausan: Relikui Charroux (Prancis) dinyatakan asli oleh Paus Klemens VII (1523–1534); relikui Calcata (Italia) diakui setelah “ditemukan kembali” pada 1557 dan menjadi pusat ziarah dengan prosesi tahunan setiap 1 Januari yang berlangsung hingga abad ke-20.
5. Pemujaan terhadap Kulup Suci berlangsung nyaris seribu tahun dan diterima secara luas oleh umat, bahkan oleh para kudus seperti Santa Birgitta dari Swedia, Santa Katarina dari Siena, dan Agnes Blannbekin yang melaporkan pengalaman mistik ekstrem terkait relikui ini.
6. Sejak abad ke-7, kritik teologis telah muncul dari tokoh seperti Anastasius Sinaita, John Hus, dan bahkan Paus Innocentius III yang menolak memverifikasi keaslian relikui tersebut.
7. Vatikan mulai menekan pemujaan ini secara formal pada tahun 1900 dengan ancaman ekskomunikasi bagi siapa pun yang membicarakannya. Sanksi diperketat pada 1954, dan Hari Raya Sunat Suci dihapus setelah Konsili Vatikan II.
8. Relikui Calcata yang paling terkenal dicuri secara misterius pada tahun 1983 dari kotak sepatu di bawah tempat tidur pastor paroki, dan tidak pernah ditemukan kembali. Berbagai teori menuding oknum Vatikan, penjualan gelap, atau pencurian oleh kelompok tertentu.
9. Para akademisi melihat fenomena ini sebagai cerminan kebutuhan spiritual manusia untuk menyentuh yang ilahi melalui benda fisik. Miri Rubin menyamakannya dengan pemujaan modern terhadap barang-barang selebritas langka.
10. Saat ini, Gereja Katolik tidak lagi mengakui atau membahas Kulup Suci secara resmi. Relikui tersebut telah menjadi bagian dari sejarah yang kontroversial, namun tetap menjadi studi penting tentang bagaimana iman, budaya, dan hasrat manusia berkelindan dalam bentuk yang paling literal.
## Daftar Sumber Rujukan
1. uCatholic. (2019, November 6). The Holy Prepuce: A Lesser Known Relic of Jesus Christ. https://ucatholic.com/blog/the-holy-prepuce-a-lesser-known-relic-of-jesus-christ/
2. Dimri, B. (2021, July 20). The Holy Foreskin: Where is the Last Piece of the Body of Christ? Historic Mysteries. https://www.historicmysteries.com/history/holy-foreskin/21003/
3. Koniecczny, P. (2024, April 3). The Holy Foreskin: The Story of Christianity’s Strangest Relic. Medievalists.net. https://www.medievalists.net/2024/04/holy-foreskin-medieval-relic/
4. Howell, T., & Luksic, N. (2021, April 27). How Jesus’ foreskin became one of Christianity’s most‑coveted relics — and then disappeared. CBC Radio. https://www.cbc.ca/radio/ideas/how-jesus-foreskin-became-one-of-christianity-s-most-coveted-relics-and-then-disappeared-1.6002421
5. Mattelaer, J.J., Schipper, R.A., & Das, S. (2007). The Circumcision of Jesus Christ. The Journal of Urology, 178(1). https://www.auajournals.org/doi/10.1016/j.juro.2007.03.016






© 2026 golgotanews.org All rights reserved.
