Paulus Sang Pendusta
Paulus sang pendusta: ia mengaku licik, merampok jemaat, menjadi saksi palsu, dan menghalalkan segala cara demi ambisi pribadinya. Ia mengubah ajaran sesuai lawan bicara dan mengaku berdusta demi kemuliaan Tuhan
SERIES PAULUS
admin
4/29/20261 min read
Apakah Rasul Paulus benar-benar rasul sejati? Kaum Ebionit—kelompok Kristen Yahudi abad awal—sangat tidak setuju. Berdasarkan laporan Epiphanius dalam Panarion Book I, Sect 30, berikut pandangan mereka:
Paulus bukan keturunan Yahudi. Ia lahir dari orang tua Yunani di Tarsus. Ia pergi ke Yerusalem dan menjadi proselit karena ingin menikahi putri seorang Imam Besar. Ketika lamarannya ditolak, ia marah. Dari kemarahan itulah ia menulis surat-surat yang menentang sunat, Sabat, dan Hukum Taurat.
Bagi Ebionit, Paulus adalah penipu. Ajarannya tentang kasih karunia dan kebebasan dari Taurat bukan wahyu, melainkan lahir dari kekecewaan pribadi. Ia tidak bisa dipercaya. Ia mengubah ajarannya sesuai lawan bicara (1 Korintus 9:20-21). Ia mengaku kadang berbicara "sebagai orang bodoh", bukan utusan Tuhan (2 Korintus 11:17). Ia juga mengaku licik dan menjerat orang dengan tipu daya (2 Korintus 12:16 NIV).
Kesimpulan Ebionit: Paulus bukan rasul sejati, melainkan penipu ulung yang menghalalkan segala cara demi ambisi dan dendam, serta merusak ajaran Yesus yang taat Taurat.
Sumber:
Epiphanius of Salamis, The Panarion, Book I, Sect 30 (terjemahan Frank Williams).
Selain itu, Paulus sendiri berulang kali mengakui hal-hal yang meragukan. Dalam Roma 3:7 (TB) ia berkata: "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi sebagai orang berdosa?" —seolah-olah ia tidak peduli apakah kebenaran yang ia sampaikan berasal dari motif jujur atau palsu?. Ia juga mengaku pernah merampok jemaat lain untuk membiayai pelayanannya: "Aku telah merampok jemaat-jemaat lain dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu" (2 Korintus 11:8 TB). Yang paling mencolok, ia menyatakan ketidakpeduliannya terhadap motif pemberitaan Injil: "Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita" (Filipi 1:18 TB). Dalam 1 Korintus 15:15 (TB) ia dengan blak-blakan menyatakan: "Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Lalu bagaimana kita bisa mempercayai seorang pemimpin rohani yang tidak peduli apakah kebenaran yang ia sampaikan berasal dari motif jujur atau palsu?
© 2026 golgotanews.org All rights reserved.
